Rattan Scientific Classification

Rattan Scientific Classification

Kingdom : Plantae
--- Angiosperms
--- Monocots
--- Commelinids
Order : Arecales
Family : Arecaceae
Subfamily : Calamoideae
Tribe : Calameae
Genera :
Calamus
Calospatha
Ceratolobus
Daemonorops
Eleiodoxa
Eremospatha
Eugeissona
Korthalsia
Laccosperma
Metroxylon
Myrialepis
Oncocalamus
Pigafetta
Plectocomia
Plectocomiopsis
Pogonotium
Raphia
Retispatha
Salacca

Indonesia Rattan
Rotan Indonesia

Sumber:
Wikipedia
Read more

Rotan Indonesia

Rotan (Rattan ; English) adalah nama untuk sekitar 600 spesies pohon dalam suku Calameae, tumbuhan merambat asli daerah tropis Afrika, Asia dan Australasia. Kebanyakan rotan berbeda dari pohon lain, memiliki diameter batang ramping, 2-5 cm, dengan ruas panjang antara daunnya. Rotan berakar dangkal mirip dengan bambu. Tapi tidak seperti bambu yang berongga di dalam ruasnya, rotan batang adalah padat, dan spesies yang paling membutuhkan dukungan struktural dan tidak bisa berdiri sendiri alias hidup berkelompok (berumbun). Namun, beberapa genre (misalnya Metroxylon, Pigafetta, Raphia) memiliki daun seperti telapak tangan yang khas, berbatang gemuk dan tegak. Banyak rotan memiliki duri yang bertindak sebagai kait (menempel) untuk membantu memanjat tanaman lainnya, dan untuk mencegah dimangsa herbivora. Rotan telah dikenal dapat tumbuh hingga ratusan meter panjangnya. Sebagian besar (70%) penghasil rotan dunia ada di Indonesia, distribusi tumbuh di daerah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, pulau Sumbawa. Sisanya pasokan dunia berasal dari Filipina, Sri Lanka, Malaysia dan Bangladesh.

Di hutan mana rotan tumbuh, nilai ekonomi cukup tinggi, dan menyediakan sebuah alternatif untuk penebang kayu untuk tidak melakukan penebangan kayu lagi dan berpindah menjadi pemanen rotan sebagai gantinya. Rotan jauh lebih mudah untuk panen, hanya membutuhkan alat-alat sederhana dan lebih mudah untuk transportasi. Rotan juga tumbuh lebih cepat dari kayu tropis lainnya. Hal ini menjadi hal yang potensial dalam pemeliharaan hutan, karena menyediakan tanaman menguntungkan. Rotan juga menjadi alternatif lain dari kayu hutan.

Umumnya, rotan mentah diolah menjadi beberapa produk untuk digunakan sebagai bahan dalam pembuatan mebel. Berbagai jenis rotan dengan diameter berkisar dari beberapa milimeter sampai 5-7 cm diameter dapat dipanen. Dari untaian rotan, kulit biasanya terkelupas dengan alat tertentu. "Inti" sisa rotan atau batangnya dapat digunakan untuk berbagai keperluan dalam pembuatan mebel. Rotan merupakan bahan yang sangat baik terutama karena ringan, tahan lama, dan - sampai batas tertentu - fleksibel serta kuat. Panen rotan berlebihan dapat menyebabkan degradasi hutan, yang mempengaruhi ekosistem hutan secara keseluruhan. Pengolahan rotan juga dapat mencemari. Penggunaan bahan kimia beracun dan bensin dalam pengolahan Rotan (Rattan; English) mempengaruhi tanah, udara dan sumber daya air, dan juga akhirnya kesehatan masyarakat. Sementara itu, cara konvensional produksi rotan mengancam pasokan jangka panjang pabrik, dan pendapatan pekerja. Saat ini terdapat berbagai cara untuk memproses rotan yang begitu ramah dengan lingkungan.


Sumber:
Wikipedia
Read more

Rattan Indonesia

Rattan (Rotan ; Indonesia) is the name for the roughly 600 species of palms in the tribe Calameae, native to tropical regions of Africa, Asia and Australasia. Most rattans differ from other palms in having slender stems, 2–5 cm diameter, with long internodes between the leaves; also, they are not trees but are vine-like, scrambling through and over other vegetation. Rattans are also superficially similar to bamboo. Unlike bamboo, rattan stems ("malacca") are solid, and most species need structural support and cannot stand on their own. However, some genera (e.g. Metroxylon, Pigafetta, Raphia) are more like typical palms, with stouter, erect trunks. Many rattans have spines which act as hooks to aid climbing over other plants, and to deter herbivores. Rattans have been known to grow up to hundreds of metres long. Most (70%) of the world's rattan population exist in Indonesia, distributed among Borneo, Sulawesi, Sumbawa islands. The rest of the world's supply comes from the Philippines, Sri Lanka, Malaysia and Bangladesh.

In forests where rattan grows, its economic value can help protect forest land, by providing an alternative to loggers who forgo timber logging and harvest rattan canes instead. Rattan is much easier to harvest, requires simpler tools and is much easier to transport. It also grows much faster than most tropical wood. This makes it a potential tool in forest maintenance, since it provides a profitable crop that depends on rather than replaces trees. It remains to be seen whether rattan can be as profitable or useful as the alternatives.

Generally, raw rattan is processed into several products to be used as materials in furniture making. The various species of rattan range from several millimetres up to 5–7 cm in diameter. From a strand of rattan, the skin is usually peeled off, to be used as rattan weaving material. The remaining "core" of the rattan can be used for various purposes in furniture making. Rattan is a very good material mainly because it is lightweight, durable, and — to a certain extent — flexible. Unsustainable harvest of rattan can lead to forest degradation, affecting overall forest ecosystem services. Processing can also be polluting. The use of toxic chemicals and petrol in the processing of Rattan (Rotan ; Indonesia) affects soil, air and water resources, and also ultimately people's health. Meanwhile, the conventional way of rattan production is threatening the plant’s long term supply, and the income of workers. So there are the way to process rattan that so friendly with environment.

Source :
Wikipedia
Read more